Minggu, Maret 5

Membangkitkan Hobi Menulis bagi Guru
Dalam pengembangan profesi, sesuai dengan tuntutan Permeneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi  Nomor 16 Tahun 2009 guru dituntut untuk menghasilkan karya tulis. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi guru untuk mengesampingkan bahkan tidak mempedulikan tuntutan tersebut.  Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi Guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya, dan salah satu kegiatannya ialah publikasi ilmiah yang notabene merupakan kegiatan menulis.
Berkaitan dengan kegiatan menulis, seorang guru hendaknya bisa menjadi contoh bagi siswa. Untuk itu, mau tidak mau, guru pun dituntut untuk meningkatkan kemampuan menulis. Tulisan guru dapat dijadikan contoh atau model menulis bagi siswa. Di samping itu, dengan melakukan sendiri kegiatan menulis, guru akan memiliki empati terhadap siswa, merasakan kesulitan sebagaimana yang dialami siswa. Sebagian besar guru kita memang seringkali bisa menyampaikan beragam teori, tetapi tidak dapat melakukan atau menerapkan teori yang disampaikan itu. Misalnya, para guru sangat mahir menyampaikan teori tentang menulis deskripsi, eksposisi, argumentasi, menyusun karya ilmiah yang baik, juga bagaimana cara menulis puisi atau cerpen yang bagus. Namun, yang sering dilupakan adalah guru kurang bahkan tidak mengembangkan keterampilan produktif tersebut secara konsisten dan terus menerus. Bila guru senang menulis, tentu akan memotivasi siswa untuk senang menulis pula.
Kelemahan siswa dalam menulis telah lama dikeluhkan oleh guru,. Baik menulis fiksi maupun nonfiksi. Padahal, pelajaran menulis telah dikenalkan kepada anak sejak awal memasuki jenjang persekolahan, bahkan sebelumnya. Namun, seiring berkembangnya usia anak dan meningkatnya jenjang pendidikan, ternyata kemampuan menulis tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Bahkan untuk mengerjakan tugas (menulis) pun, siswa terlihat begitu kesulitan bahkan terkesan malas untuk mengerjakan. Maka tidak jarang ketika liburan, guru memberi tugas untuk menulis pengalaman atau kegiatan yang dilakukan siswa maka hanya beberapa siswa yang mengerjakan. Itupun masih jauh dari yang diharapkan.
Kelemahan menulis pada siswa ini tentu tak bisa sepenuhnya kesalahan siswa. Sebab, bila mau jujur, kelemahan menulis ini juga terjadi pada guru, yang notabene selama ini sering memberi tugas menulis kepada siswa. Kelemahan guru dalam menulis ini tampak ketika guru-guru tadi diminta menunjukkan hasil tulisan yang pernah mereka buat selama ini. Mereka pasti terperangah dan baru menyadari bahwa mereka sendiri hampir tidak pernah membuat tulisan, kecuali menulis soal atau ringkasan materi yang akan diajarkan. Bila memang demikian, lantas, mengapa guru harus mengeluhkan kemampuan siswa, sementara guru sendiri tak mampu menjadi contoh bagi siswa? Ingat, ketika jari telunjuk kita mengarah pada siswa, empat jari yang lain justru mengarah pada diri kita. Jadi, alangkah baiknya bila introspeksi didahulukan sebelum menjatuhkan vonis.
Sebenarnya, kegiatan menulis dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Bisa dari pengalaman pribadi yang paling berkesan (yang menyedihkan, menggembirakan, menggelikan, bahkan bila memungkinkan yang paling memalukan. Beberapa siswa (remaja) ada yang sering menuliskan catatan kecil pada Buku Harian mereka, bukankah itu merupakan suatu langkah yang perlu dikembangkan untuk menyukai kegiatan menulis? Begitu pula dengan seorang guru. Mungkinkah seorang guru tidak mempunyai pengalaman-pengalaman yang dapat dituliskan? Jawabannya, tentu saja punya namun untuk menuliskannya yang sulit! Kalau begitu, pernahkah kita menceritakan pengalaman kita kepada orang lain secara lisan? Kalau pernah, barangkali dapat dicoba dengan menceritakan kembali pengalaman yang telah dilisankan itu ke dalam bahasa tulis.
Ketika dalam pembelajaran ada problem, tentunya secara rasional guru akan mencari solusi untuk pemecahan permasalahannya baik melalui strategi, model ataupun menggunakan media pembelajaran yang tepat sehingga permasalahan diharapkan dapat teratasi. Dalam tahapan pelaksanaan pasti ada indikator-indikator perubahan dari keadaan awal menuju ke kondisi sesuai dengan harapan yang diinginkan. Dan kegiatan itu apabila diceritakan secara tertulis maka akan menjadi sebuah karya tulis dalam bentuk laporan tindakan (baca: PTK).
Semua itu memerlukan proses, proses, dan proses! Bila serius melakukan proses latihan, tentu akan terbentang jalan. Ingat, di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Jadi, sangatlah tidak beralasan bila masih ada guru yang dalam sejarah keguruannya tidak pernah mampu menghasilkan tulisan, baik karya tulis ilmiah maupun karya sastra (puisi, cerpen, atau drama). Namun, bila yang seperti ini tetap bisa percaya diri mengajar di hadapan para siswa tanpa merasa punya beban moral atau tanpa punya keinginan untuk mengasah keterampilan menulisnya, sungguh ”luar biasa”. Akhirnya, mari kita bangkitkan semangat untuk belajar menulis agar kita mampu mengajarkan bagaimana cara menulis itu. Dan, tulisan ini pun merupakan hasil dari belajar menulis tadi. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat!