Tampilkan postingan dengan label Info Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Guru. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 21

Pedoman Sertifikasi

Berdasar buku panduan sertifikasi guru 2011, pola sertifikasi 2011 ada sedikit perbedaan dengan tahun sebelumnya. Perbedaan ini adalah pada pola PLPG, di mana peserta dapat “memilih” mengikuti PLPG jika memenuhi ketentuan.

Penyelenggaraan sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2011 dibagidalam 3 (tiga) pola sebagai berikut.

1. Penilaian Portofolio (PF)

Sertifikasi guru pola PF diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang: (1)memiliki prestasi dan kesiapan diri untuk mengikuti proses sertifikasi melalui pola PF, (2) tidak memenuhi persyaratan persyaratan dalam proses pemberian sertifikat pendidik secaralangsung (PSPL).

Penilaian portofolio dilakukan melalui penilaian terhadap kumpulan berkas yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mencakup: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.


2. Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL)

Sertifikasi guru pola PSPL diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang memiliki:

a. kualifikasi akademik magister (S-2) atau doktor (S-3) dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya, atau guru kelas dan guru bimbingan dan konseling atau konselor, dengan golongan sekurang-kurangnya IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b;

b. golongan serendah-rendahnya IV/c atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/c.


3. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)

PLPG diperuntukkan bagi guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang: (1) memilih langsung mengikuti PLPG (2) tidak memenuhi persyaratan PSPL dan memilih PLPG, dan (3) tidak lulus penilaian portofolio, PLPG harus dapat memberikan jaminan terpenuhinya standar kompetensi guru. Beban belajar PLPG sebanyak 90 jam pembelajaran. Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAIKEM) disertai workshop Subject Specific Pedagogic (SSP) untuk mengembangkan dan mengemas perangkat pembelajaran.


Persyaratan Peserta

1. Persyaratan Umum

a. Guru yang masih aktif mengajar di sekolah di bawah binaan Kementerian Pendidikan Nasional kecuali guru pendidika agama. Sertifikasi guru bagi guru pendidikan agama dan semua guru yang mengajar di madrasah diselenggarakan oleh Kementerian Agama dengan kuota dan aturan penetapan peserta dari Kementerian Agama (Surat Edaran Bersama Direktur Jenderal PMPTK dan Sekretaris Jenderal Departemen Agama Nomor SJ/Dj.I/Kp.02/1569/ 2007, Nomor 4823/F/SE/2007 Tahun 2007).

b. Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dengan ketentuan:

* 1) bagi pengawas satuan pendidikan selain dari guru yang diangkat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (1 Desember 2008), atau

* 2) bagi pengawas selain dari guru yang diangkat setelah berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru harus pernah memiliki pengalaman formal sebagai guru.


c. Guru bukan PNS pada sekolah swasta yang memiliki SK sebagai guru tetap dari penyelenggara pendidikan (guru tetap yayasan), sedangkan guru bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK dari Bupati/Walikota atau dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota.

d. Pada tanggal 1 Januari 2012 belum memasuki usia 60 tahun.

e. Memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK).


Urutan Prioritas Penetapan Peserta

Guru yang dapat langsung masuk mengisi kuota sertifikasi guru adalah sebagai berikut.

a. Semua guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang memenuhi persyaratan dan belum memiliki sertifikat pendidik.

b. Semua guru yang mengajar di daerah perbatasan, terdepan, terluar yang memenuhi persyaratan,

c. Guru dan kepala sekolah berprestasi peringkat 1 tingkat provinsi atau peringkat 1, 2, dan 3 tingkat nasional, atau guru yang mendapat penghargaan internasional yang belum mengikuti sertifikasi guru dalam jabatan pada tahun 2007 s.d 2010.

d. Guru yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan sertifikat secara langsung,

e. Guru SD dan SMP yang telah terdaftar dan mengajar pada sekolah yang menjadi target studi sertifikasi guru, Guru lainnya yang tidak masuk ketentuan di atas ditetapkan sebagai peserta sertifikasi guru berdasarkan kriteria urutan prioritas sebagai berikut: (1) masa kerja sebagai guru, (2) usia, (3) pangkat dan golongan, (4) beban kerja, (5) tugas tambahan, (6) prestasi kerja.

Dokumen untuk diunduh

Info sekilas di atas merupakan kutipan isi Buku 1 Pedoman Sertifikasi 2011. Untuk itu, bila ingin memahami pola sertifikasi 2011, dapat mengunduh dokumen berikut
Buku Pedoman Sertifikasi 2011

Rabu, April 20

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotsky

The National for the Educational of Young Children (NAEYC) mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah hari maupun penuh baik di rumah ataupun institusi luar. Asosiasi para pendidik yang berpusat diAmerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan anak yang mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksi menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak. NAEYC juga berperan sebagai lembaga yang memberikan panduan dalam menjaga mutu program pendidikan anak usia dini yang berkualitas yaitu program yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan keunikan individu.Pembagian rentang usia berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, tercantum dalam buku kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang terbagi ke dalam rentang tahapan berikut: (1) Masa bayi berusia lahir – 12 bulan; (2) Masa “toddler” atau balita usia 1-3 tahun; (3) Masa prasekolah usia 3-6 tahun; (4) Masa kelas B TK usia 4-5/6 tahun

Teori perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi. Semua organisme dilahirkan dengan kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungannya. Cara beradaptasi berbeda bagi setiap individu, begitu juga proses dari tahap yang satu ke tahap yang lain dalam satu individu. Adaptasi terjadi dalam proses asimilasi dan akomodasi. Kita merespon dunia dengan menghubungkan pengalaman yang diterima dengan pengalaman masa lalu kita (asimilasi), sedangkan setiap pengalaman itu berisi aspek yang mungkin saja baru sama sekali. Aspek yang baru inilah yang menyebabkan terjadinya dalam struktur kognitif (akomodasi).Asimilasi adalah proses merespon pada lingkungan yang sesuai dengan struktur kognitif seseorang. Tetapi proses pertumbuhan intelektual tidak akan ada apabila pengalaman yang ditangkap tidak berbeda dengan skemata yang ada oleh sebab itu diperlukan proses akomodasi, yaitu proses yang merubah struktur kognitif. Bagi Piaget proses akomodasi tersebut dapat disamakan dengan belajar. Konsep ini mejelaskan tentang perlunya guru memilih dan menyesuaikan materi berpijak dari ide dasar yang diketahui anak, untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas misalnyadalam bentuk
pertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks.

Piaget selain meneliti tentang proses berpikir di dalam diri seseorang ia juga dikenal dengan konsep bahwa pembangunan struktur berfikir melalui beberapa tahapan. Piaget membagi tahap perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap: (1) Tahap sensori motor (lahir-2 tahun); (2) Tahap praoperasi (usia 2-7 tahun); (3) Tahap operasi konkrit (usia 7-11 tahun); (4) Tahap operasi formal (usia 11-15 tahun). Tahapan-tahapan ini sudah baku dan saling berkaitan. Urutan tahapan Tidak dapat ditukar atau dibalik karena tahap sesudahnya melandasi Terbentuknya tahap sebelumnya. Akan tetapi terbentuknya tahap tersebut dapat berubah-ubah menurut situasi sesorang. Perbedaaan antara tahap sangat besar. Karena ada perbedaan kualitas pemikiran yang lain. Meskipun demikian unsur dari perkembangan sebelumnya tetap tidak dibuang. Jadi ada kesinambungan dari tahap ke tahap, walaupun ada juga perbedaan yang sangat mencolok.

Vigotsky memandang bahwa sistem sosial sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Orangtua, guru dan teman berinteraksi dengan anak dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian. Jadi belajar terjadi dalam konteks sosial, dan muncul suatu istilah zona Perkembangan Proksimal (ZPD). ZPD diartikan sebagai daerah potensial seorang anak untuk belajar, atau suatu tahap dimana kemampuan anak dapat ditingkatkan dengan bantuan orang yang lebih ahli. Daerah ini merupakan jarak antara tahap perkembanan aktual anak yaitu ditandai dengan kemampuan mengatasi permasalahan sendiri batas tahap perkembangan potensial dimana kemampuan pemecahan masalah harus melalui bantuan orang lain yang mampu.Sebagi contoh anak usia 5 tahun belajar menggambar dengan bantuan pengarahan dari Orang tua atau guru bagimana caranya secara bertahap, sedikit demi sedikit bantuan akan berkurang sampai ZPD berubah menjadi tahap perkembangan aktual saat anak dapat menggambar sendiri. Oleh karena itu dalam mengembangkan setiap kemampuan anak diperlukan scaffolding atau bantuan arahan agar anak pada akhirnya menguasai keterampilan tersebut secara independen. Dalam mengajar guru perlu menjadi mediator atau fasilitator di mana pendidik berada disana ketika anak-anak membutuhkan bantuan mereka. Mediatoring ini merupakan bagian dari scaffolding. Jadi walaupun anak sebagai pebelajar yang aktif dan ingin tahu hampir segala hal, tetapi dengan bantuan yang tepat untuk belajar lebih banyak perlu terus distimuluasi sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.

Vigotsky meyakini bahwa pikiran anak berkembang melalui: (1) Mengambil bagian dalam dialog yang kooperatif dengan lawan yang terampil dalam tugas di luar zone proximal Development; (2) Menggunakan apa yang dikatakan pendidik yang ahli dengan apa Yang dilakukan. Berbeda dengan Piaget yang memfokuskan pada perkembangan berfikir dalam diri anak (intrinsik), Vigotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh sosial dan budaya anak tersebut tinggal. Setiap budaya memberikan pengaruh pada pembentukan keyakinan, nilai, norma kesopanan serta metode dalam memecahkan masalah sebagai alat dalam beradaptasi secara intelektual. Budayalah yang mengajari anak untuk berfikir dan apa yang seharusnya dilakukan.

Kata kunci: perkembangan anak, vigotsky, jean piaget, scaffolding, tahap sensori motor, tahap praoperasional, tahap operasi konkret, tahap operasi formal

Minggu, April 10

beban kerja guru

beban-kerja-guru-24-jam

Senin, April 4

Mengembangkan Soft Skill Siswa

Pendidikan merupakan suatu proses dimana peserta didik akan memiliki pengetahuan (kognitif), sikap (apektif) dan ketrampilan (psikomotorik) guna bekal hidup layak di tengah-tengah masyarakat. Proses ini mencakup peningkatan intelektual, personal dan kemampuan social yang diperlukan bagi peserta didik sehingga tidak saja berguna bagi diri pribadi dan keluarga tetapi juga keberadaannya bermanfaat bagi masyarakat. Maka strategi yang dikembangkan dalam kurikulum pendidikan nasional kita selalu berdasarkan pada ketiga ranah di atas baik dalam proses pembelajaran maupun avaluasinya.

Sejalan dengan pengertian di atas, menurut UNESCO, tujuan belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus dilandaskan pada 4 pilar yaitu learning how to know, learning how to do, learning how to be, dan learning how to live together. Dua landasan yang pertama mengandung maksud bahwa proses belajar yang dilakukan peserta didik mengacu pada kemampuan mengaktualkan dan mengorganisir segala pengatahuan dan ketrampilan yang dimiliki masing-masing individu dalam menghadapi segala jenis pekerjaan berdasarkan basis pendidikan yang dimilikinya (memilik Hard Skill). Dengan kata lain peserta didik memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka dapat bersaing untuk memasuki dunia kerja. Sedangkan 2 landasan yang terakhir mengacu pada kemampuan mengaktualkan dan mengorganisir berbagai kemampuan yang ada pada masing-masing individu dalam suatu keteraturan sistemik menuju suatu tujuan bersama. Maksudnya bahwa untuk bisa menjadi seseorang yang diinginkan dan bisa hidup berdampingan bersama orang lain baik di tempat kerja maupun di masyarakat maka harus mengembangkan sikap toleran, simpati, empati, emosi, etika dan unsure psikologis lainnya. Inilah yang disebut dengan Soft Skill.


Relevansi Soft Skill

Dalam era industri modern saat ini, komponen pokok dalam kegiatan produksi adalah mesin-mesin penggerak yang berfungsi meningkatkan dan mengganti kekuatan otot manusia. Bahkan di beberapa Negara maju mesin-mesin penggerak mulai digantikan robot. Maka tatkala semua komponen fisik dan otak manusia telah sebagian diganti atau paling tidak dikuatkan manusia, lalu apa yang harus diperbuat manusia? Yang jelas ada satu komponen yang tidak tergantikan oleh perkembangan teknologi pada diri manusia yaitu yang namanya emosi, semangat, empati, ambisi dan lain-lainya yang tidak mungkin tergantikan oleh alat-alat ukur apapun. Dalam kondisi demikian, kemampuan mengelola hubungan antar manusia menjadi semakin meningkat relevansinya. Mengapa?

Kinerja system beserta komponen system yang mendukung kehidupan manusia tidak semata-mata didasari oleh keberadaan peralatan yang ada, tetapi karena adanya dorongan dari manusia untuk mengaktualisaikan kemampuannya. Dorongan dari dalam diri manusia itulah yang dimaksud dengan kemampuan soft skill. Jadi soft skill tidak semata-mata kemampuan manajerial saja yang orientasinya pada umumnya hanya pada upaya efisiensi dan efektifitas, tetapi juga bagaimana mampu mengelola manusia agar semua manusia yang berposisi sebagai pendukung system mempunyai kepuasan psikologis. Itu tadi yang disebabkan karena manusia masih mempunyai emosi, ambisi, ambisi, etika, semamgat yang tidak tergantikan oleh robot-robot yang basisnya adalah “mekanistis terukur”.

Mengembangkan Soft Skill

Guru sebagai salah satu komponen dalam system pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa, memiliki peranan penting dalam menentukan arah dan tujuan dari suatu proses pembelajaran. Kemampuan yang dikembangkan tidak hanya ranah kognitif dan psikomotorik semata yang ditandai dengan penguasaan materi pelajaran dan ketrampilan , melainkan juga ranah kepribadian siswa. Pada ranah ini siswa harus menumbuhkan rasa percaya diri sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya sendiri yakni manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. Manusia utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal dirinya, yang mengendalikan dirinya dengan konsisten dan memiliki rasa empati (tepo seliro). Menurut Howard Gardner dalam bukunya yang bejudul Multiple Inteligences (1993), bahwa ada 2 kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan mengembangkan kepribadian yaitu :

1. Kecerdasan Interpersonal (interpersonal Intelligence) adalah kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara dan gerak tubuh orang lain (isyarat), dan kemampuan untuk menjali relasi dan komunikasi dengan berbagai orang lain.
2. Kecerdasan Intrapersonal (intrapersonal intelligence) adalah kemampuan memahami diri dan bertindak adaptif berdasarkan pengetahuan tentang diri. Kemampuan berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran diri tinggi, inisiatif dan berani.

Mengingat pentingya soft skill dalam upaya membentuk karakter siswa, maka strategi pembelajaran yang bisa dikembangkan adalah dengan mengoptimalkan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan lingkungan, serta interaksi banyak arah. Disamping itu perlu juga kreativitas guru untuk mampu memancing siswa untuk terlibat secara aktif, baik fisik, mental, sosial dan emosional. Dengan demikian bila hal itu sudah terbiasa dilakukan oleh siswa maka akan terbawa nantinya bila mereka terjun di dunia kerja dan di masyarkat. Wallahu ‘alam bis shawab

Sabtu, April 2

JABATAN FUNGSIONAL PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Setelah menunggu sekian lama mengenai Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajar, akhirnya pertengahan maret 2009 telah diterbitkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor: PER/2/M.PAN/3/2009 tentang Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran dan Angka Kreditnya, tertanggal 10 Maret 2009. Terbitnya Permen tersebut menandai babak baru bagi lahirnya profesi Pengembang Teknologi Pembelajaran yang telah lama diperjuangkan oleh teman-teman penggiat Teknologi Pendidikan (TP) khususnya yang ada di Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM) maupun Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan (IPTPI).

Silahkan download link nya:

1. PERMENPAN_Pengembang Teknologi Pembelajaran
2. Lampiran 1
3. Lampiran 2
4. Lampiran 3
5. Lampiran 4
6. lampiran 5

Kamis, September 17

RPP TEMATIK

Bagi yang butuh RPP Tematik dapat di download di sini tentunya disesuaikan dengan kreatifitas masing-masing dalam pembelajarannya.jangan lupa kritik dan sarannya untuk penyempurnaan.

Metode Inkuiri

PENGGUNAAN METODE LATIHAN INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN IPS

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini, memberikan dampak yang sangat luas disegala aspek kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan termasuk didalamnya perkembangan metode pembelajaran yang terus diarahkan pada peningkatan prestasi siswa.



Dari beberapa hasil penelitian tentang factor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa diperoleh informasi bahwa disamping kemampuan dasar siswa, faktor stimulasi peran guru, dengan menggunakan metode mengajar yang sesuai memiliki keterkaitan yang kuat dengan pengalaman belajar yang merupakan proses kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.



Proses pembelajaran IPS yang efektif terjadi apabila guru mampu menggali informasi dan pengetahuan dari masyarakat melalui fakta dan kejadian yang berhubungan dengan konsep kurikulum.

Baca selengkapnya.....

Rabu, September 16

Skripsi Bahasa

KORELASI ANTARA KEBIASAAN MEMBACA DENGAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS XI SMA TAMAN ISLAM CIBUNGBULANG BOGOR
Posted June 6th, 2008 by mieea

* Pendidikan Bahasa Indonesia

abstraks:

ABSTRAK

KORELASI ANTARA KEBIASAAN MEMBACA DENGAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS XI SMA TAMAN ISLAM CIBUNGBULANG BOGOR.

Skripsi, Jakarta: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, April 2007.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas XI SMA Taman Islam Cibungbulang Bogor. Penelitian dilakukan di SMA Taman Islam Cibungbulang Bogor pada bulan Januari – Maret 2007 dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMA Taman Islam sebanyak 166 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling dan sampel penelitian sejumlah 50 siswa. Instrumen penelitian menggunakan angket kebiasaan membaca dan tes kemampuan membaca pemahaman.

Metode penelitian yaitu analisis korelasional. Data dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi product moment, sehingga diperoleh hasil r hitung sebesar 0,619 lebih besar dari r tabel yakni 0,288 dengan batas signifikasi 5%. Dengan demikian hipotesis penelitian (H1) dinyatakan diterima.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat dinyatakan bahwa terdapat korelasi yang positif antara kebiasaan membaca dengan kemampuan membaca pemahaman.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Untuk file lengkap silahkan download

BSE

Bagi yang ingin mendapatkan file BSE silahkan download di sini sedangkan untuk file yang sudah digabung bab-babnya dan diperkecil sehingga mudah untuk downloadnya ada di sini

PTK Matematika

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT)
UNTUK POKOK BAHASAN BILANGAN PECAHAN
o
ABSTRAK
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK POKOK BAHASAN BILANGAN PECAHAN PADA SISWA SMP NEGERI 1 RANTAU BADAUH
(Pelajaran matematika dipandang sebagai bagian ilmu-ilmu dasar yang berkembang pesat baik isi-isi maupun aplikasinya serta dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemampuan bekerja sama yang efektif. Walaupun demikian kenyataan menunjukkan selama ini hasil belajar matematika belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal tersebut disebabkan oleh karakteristik matematika itu sendiri yakni konsep-konsep umumnya bersifat abstrak. Untuk itu perlu dihadirkan suatu strategi pembelajaran yang tepat untuk memotivasi siswa serta melibatkannya dalam proses pembelajaran. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT, dimana dengan model pembelajaran ini diharapkan belajar matematika menjadi menyenangkan dan menjadi lebih bermakna bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar dan persepsi siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Rantau Badauh tahun pelajaran 2006/2007 yang berjumlah 66 orang siswa. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik sampel acak yaitu kelas VII.A. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik Observasi langsung, tes, angket, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dan cara persentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) siswa memberikan respon yang positif dalam pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe TGT; (2) rata-rata hasil belajar siswa yang memperoleh nilai 65,0 meningkat dari 42% siswa pada evaluasi 1 menjadi 57% pada evaluasi 2.
Kata kunci : model kooperatif tipe TGT, pembelajaran matematika, hasil belajar
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan disetiap negara. Berhasil tidaknya pendidikan yang dilaksanakan akan menentukan maju mundurnya negara tersebut. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran.
Pelajaran matematika dipandang sebagai bagian ilmu-ilmu dasar yang berkembang pesat baik isi-isi maupun aplikasinya serta dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemampuan bekerja sama yang efektif (Depdiknas, 2004).
Walaupun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa hingga saat ini hasil belajar matematika belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Para pakar menyatakan bahwa kenyataan tersebut disebabakan oleh berbagai faktor. Suharta (2000) menyatakan bahwa faktor penyebab timbulnya kesulitan bagi siswa dalam mempelajari matematika karena karakteristik matematika itu sendiri yakni konsep-konsep umumnya bersifat abstrak. Menurut Hudoyo (2000) faktor lain yang menyebabkan timbulnya kelemahan dalam pembelajaran matematika adalah kebiasaan hanya menerapkan metode ceramah dalam pelakasanaan belajar serta kurangnya kemampuan guru untuk menghadirkan pendekatan belajar yang tepat untuk memotivasi siswa serta melibatkannya dalam proses pembelajaran. Menurut Yuwono (2001) dalam proses pembelajarannya kebanyakan guru masih menggunakan metode konvensional, yakni mengandalakan chalk and talk, hanya menggunakan buku ajar sebagai resep yang siap disuapkan kepada siswanya (Sukmawati, 2003).
Demikian pula dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan pecahan. Selama ini guru hanya menggunakan cara-cara yang konvensional dalam mengajarkannya kepada siswa. Untuk itu perlu dicarikan suatu srategi ataupun model pembelajaran agar siswa mendapatkan suatu kemudahan dan merasa senang dalam belajar matematika. Tim MKPBM (2001) menyatakan bahwa diantara model pembelajaran yang ada, terdapat model yang mempunyai keunggulan dalam memecahkan masalah pembelajaran dan membawa siswa untuk untuk menjadi lebih efektif dalam belajar (effective learners). Dan salah satu model pembelajaran yang perlu dipertimbangakan adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learnings). Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa variasi dan salah satunya adalah Team GamesTournament (TGT). Nur & Wikandari (2000) menjelaskan bahwa TGT telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dan paling cocok digunakan untuk mengajar tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar, seperti perhitungan dan penerapan berciri matematika, dan fakta-fakta serta konsep IPA.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Implementasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Team GamesTournament (TGT) Untuk Pokok Bahasan Bilangan Pecahan Pada Siswa SMP Negeri 1 Rantau Badauh”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti yaitu :
(1) Bagaimana persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT.
(2) Bagaimana hasil belajar matematika dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Rantau Badauh tahun pelajaran 2006/2007.
1.3 Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak meluas, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut :
(1) siswa yang diteliti adalah siswa kelas VII.A semester I SMP Negeri 1 Rantau Badauh tahun pelajaran 2006/2007.
(2) penelitian dilakukan pada pokok bahasan pecahan.
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
(1) Mengetahui bagaimana persepsi siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe TGT.
(2) Mengetahui hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Rantau Badauh pada materi pecahan
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dengan adanya penelitian ini adalah :
(1) Sebagai penambah wawasan bagi peneliti.
(2) Sebagai bahan masukan dan informasi bagi guru tentang alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengajarkan matematika.
(3) Sebagai informasi bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas hasil belajar matematika.
(4) Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya.
1.6 Anggapan Dasar
(1) Siswa yang diteliti mempunyai kemampuan dasar dan tingkat perkembangan mental yang relatif sama.
(2) Materi yang diajarkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
(3) Alat evaluasi yang digunakan memenuhi kriteria sebagai alat evaluasi yang baik.

Untuk file lengkap silahkan download